Kamis, 05 Oktober 2017

Angan , Lalu Paham Tertumbuk

Gagal. Semuanya pasti pernah merasa begitu. Harapan kadang memang jauh kenyataannya dengan realita yang harus kita hadapi.  Terkadang, saya pribadi merasa bingung.

“Untuk apa saya berharap?”

Pertanyaan itu kerap kali muncul dalam benak saya, terlebih apabila saya sedang merasa hancur. Merasa jadi manusia paling tidak berguna, yang hanya dapat membuat susah sekitar. Pikiran buruk terus menggerogoti sisi positif saya, bahkan dengan membabi butanya hingga membuat saya kehilangan kepercayaan dalam diri saya sendiri.

Menangis. Perilaku kekanak-kanakkan yang sering saya lakukan jika sedang berada dalam posisi terpuruk. Saya sering bertanya-tanya, bahkan kepada Allah, dalam doa dengan memohon petunjuk kepada-Nya agar diberi kemudahan, sehingga saya bisa dengan cepat menemukan jati diri. Saya sering merasa hilang jalan, kadang saya memaki diri sendiri karena saya terlalu pasrah mengikuti alur, namun saat saya sudah mencoba memberontak, selalu saja ada halangan. Entah karena pikiran negatif saya atau memang sudah jalannya begitu. Ironis sekali, kan?

Seperti sebuah peribahasa yang saya jadikan judul "Angin Lalu Paham Tertumbuk" dengan artian menghemat pikiran atau untuk tidak terlalu berpikir banyak bahwasannya memang dapat dilakukan, namun ketika setelah dijalani dan pada akhirnya ternyata tidak mudah atau tidak dapat direalisasikan, hal tersebut dapat membuat kita kehilangan akal. Mungkin kata-kata saya terdengan sangat dramatis bahkan tergambar jelas bahwa saya adalah orang yang melankolis. Menulis itu obat terbaik jikalau saya sedang memiliki konflik batin, dimana saya sendiri tak bisa mengungkapkannya melalui kata secara verbal namun sangat lancar jika harus saya tulis.

Namun, saya tahu bahwa memang seperti inilah hidup. Hal yang tidak mungkin jika saya akan selalu berjalan pada jalanan yang lurus, pasti akan selalu terdapat hambatan diantaranya. Merasa jatuh adalah fase saya untuk lebih dewasa lagi, Allah sedang menyiapkan saya untuk menjadi pasukan yang kuat, secara fisik dan mental. Pikiran positif tersebutlah yang membuat saya masih merasa hidup, disamping kehampaan yang saya sering rasakan, kejenuhan yang mengusik kehidupan saya.

Dekat dengan Sang Pencipta adalah solusi terbaik, mengapa?

Sejatinya kita merasa kosong karena diri kita jarang bercengkrama dengan-Nya, merasa hebat hingga lupa bersyukur, namun bila sedang diterpa masalah, barulah kita mengemis belas kasihan kepada-Nya. Berperilaku sebaik mungkin agar dapat ampun darinya.

Dahulu saya adalah anak yang sangat penurut, tak pernah sedikit pun membangkang, hidup saya sangatlah damai, hingga pada akhirnya perceraian kedua orang tua saya mengagetkan saya, yang saat itu masih duduk dibangku kelas 3 SD. Saya masih bingung dengan keadaan dimana saya dipaksa untuk hanya tinggal dengan salah satunya, kakak saya pun hanya berdiam diri, mencoba menerimanya, mengingat tak ada yang bisa kami lakukan karena kami berdua masih dibawah umur. Bisa dibilang itu merupakan salah satu kegagalan saya, namun bukan yang terberat. Kegagalan yang paling menghancurkan hati saya adalah bahwa saya membiarkan hal itu terjadi dan berpura-pura biasa saja sehingga justru banyak hati yang tersakiti namun saya mengacuhkan mereka. Saya sendiri sedang mencoba berjuang, saya pikir hidup dalam keluarga yang sudah tercerai-berai tidaklah sebuah masalah yang besar, meski banyak sekali orang yang kerap kali bertanya apakah saya baik-baik saya. Namun sebenarnya itulah akar masalahnya, sifat saya berubah sedikit demi sedikit, kearah yang terkadang bersifat negatif. Saya punya sifat tidak percaya diri dan terlalu mudah percaya pada siapapun sehingga seringkali mendapat perilaku yang seenaknya.

Maksud saya menceritakannya adalah memang benar, kegagalan itu menyakitkan. Namun jika hanya dengan menangis, takkan pernah ada masalah yang terselesaikan. Hanya ada luka yang terus membesar dan jika dibiarkan terlalu lama akan berubah menjadi lubang hitam, lalu pada akhirnya melahirkan kebencian, juga menjadi akar dari keburuksangkaan, bahkan pada Allah; Hilang sudah kepercayaan kepada-Nya.

Jangan sampai kita menjadi pribadi yang seperti itu. Bersedih hati itu bukanlah sebuah dosa, apalagi sebuah aib. Jangan pernah lupa untuk bersyukur dan mencintai diri sendiri.

Sepertinya cukup sampai disini dulu ya hehehe aku udh lama gak nulis jd basa-basi aja hehehe, maaf kalo makin menurun dan maaf lagi gak mood update soal cinta, karena saya sendiri sedang bingung hehehehe. Jangan lupa difollow!!

Minggu, 02 Juli 2017

Feeling Guilty

Semakin lama, aku semakin takut untuk mencinta.
Saat ada orang lain menunjukan perasaannya padaku, aku selalu mendorong mereka pergi, karena luka di masa lalu itu tak kunjung sembuh, masih membekas dan semakin terasa perih.

Aku takut justru rasa itu semakin memburuk jika aku membuka diri pada orang lain.

Aku hanya memfokuskan segalanya pada hal yang aku harus raih, seperti pendidikan. Cinta hanya aku ekspresikan kepada idolaku, keluargaku, temanku, sampai kepada diriku sendiri.

Sejatinya, sebelum kita mencintai seseorang, kita harus bisa mencintai diri sendiri dahulu. Menghargai perasaan sendiri, juga memperlakukan diri sendiri sebaik mungkin. Disaat iming-iming cinta hanya ditujukan kepada lawan jenis, seringkali kita lupa bahwa diri kita terbengkalai sendirian, tak ada yang memperhatikan, bahkan barang menengok sedikitpun tak pernah.

Jadi, mencintai diri sendiri itu adalah kewajiban yang selalu kita lupakan dan sesuatu yang harus kita lakukan mulai sekarang.

Kalian tahu kan rasa sakit yang tak kunjung hilang? Semakin kalian mencoba menyembuhkannya, semakin parah juga hasilnya. Aku mencoba tegar dan melakukan banyak hal namun selalu gagal. Hasilnya nihil.

... Dan sekarang, rasa sakit ini semakin membunuhku.

Sabtu, 11 Maret 2017

Coretan Kecil

Aku lelah berpura-pura.
Seolah hati ini sanggup, menanggung luka pedih ini seorang diri.
Diri ini bukan pahlawan super,
Bahkan seorang pahlawan pun akan tetap merasakan pilu dihatinya.
Hati ini bukan baja,
Mungkin memang terlihat kuat, namun sebenarnya rapuh.

Kau tersenyum seolah tak pernah ada yang terjadi,
Kau memandangku seolah tau aku rapuh, tapi tak berbuat apa-apa.
Kau mengetahuinya,
Rasa sakit yang kau timbulkan begitu dalam itu.
Keserakahanmu akan nafsu setan itu, kau menyadarinya.
Tapi kau hanya diam, seolah kau tak pernah mengingkari apapun.


Air mata tak pernah menyelesaikan semuanya,
Sebanyak apapun aku menangis, tak pernah menyudahi apapun.
Kau minta aku untuk berhenti,
Tapi kau pun tak pernah berusaha untuk menghentikannya.
Kau yang memulai, lantas mengapa harus aku yang menghentikannya?


Pernahkah sedetik pun, kau peduli dengan perasaan ini?
Perasaan yang dengan tak tahu malunya, kau renggut lalu kau buang entah dimana itu.
Perasaan yang kau buat melayang-layang, lalu kau lemparkan dengan sadisnya.
Perasaan yang hanya luka kau tinggalkan disitu,
Namun perasaan yang selalu merindukan sang perusak, meski hanya ada luka disitu.


Kau anggap aku mendramatisir,
Tapi dimana semua usahamu itu?
Usaha yang menbuat aku goyah awalnya.
Usaha yang hanya bualan semata.
Apakah semua itu telah hilang tertelan semua kebusukanmu?


Itu bukan cinta, tapi hanya nafsu semata.
Dan kau takkan pernah bisa memperbaiki semuanya,
Karena kau memang merusaknya dengan sengaja.


Terus saja, lakukan ini. Entah dengan sayatan atau langsung dengan tusukan.
Sakiti tanpa ampun. Lakukan semuanya semaumu.

Hanya jangan pernah lupa, semua yang kita tanam adalah yang kita tuai.

Sabtu, 29 Oktober 2016

Tak Tahu Malu

Hati itu, kau tahu
Memang tak tahu malu.


Lantas mengidamkan sesosok manusia yang  diselimuti cinta
Hati justru memilih yang tak ada kepastian
Seseorang yang penuh luka dan kebencian dalam jiwanya
Sungguh, membuat diri kadang bagai terombang-ambing diantara mimpi sendiri..


Aku berpikir untuk menyerah atas cinta,
Karena tak patut juga untuk memperjuangkan hawa nafsu setan itu
Tapi diri ini lemah, butuh asupan kecupan dan pelukannya
Butuh nyanyian dan kata-kata rindu yang memenuhi gendang telingaku..

Dasar jalang,
Hati ini penuh dengan keserakahan
Dibutakan atas rasa bergejolak sementara
Hati ini berdegup kencang tatkala seseorang menyebut namanya..


Hei, jikalau aku punya pilihan atas kehendak terkutuk ini
Lebih baik ku sudahi saja semua drama setan ini
Ku bakar perasaanku dalam singgasana singa yang marah
Meraung-raung butuh didekap dan dicinta selamanya..


Hati itu, kau tahu.
Memang tak tahu malu.


Rasanya jiwa ini terbang seiringan dengan harapan palsu yang kuimpikan
Aku mengaku salah, sialan
Aku pantas di cacimaki, sangat
Aku memang ceroboh, maaf


Memang semborono hati ini, memilih seseorang yang tak pantas untuk dicintai
Memang ruam hati ini, perlu beberapa jaitan pelajran atas kasih sayang
Entah,
Harus ku nikmati kesombongan ini
Atau..
Ku letakkan dalam jurang mimpi burukku
Pergi..
Dan takkan pernah ku menggapainya lagi.











Bzzz idk gue nulis apaan. Yang penting ngepost hasil sendiri. Sejauh ini sih, gue gak ngerasa nulis puisi, cuman kayak tulisan aja. Thanks for reading!! Jangan jadi silent reader ya, follow juga blognya kalo bisa. Thank you all!!

Jumat, 28 Oktober 2016

Rona

Lantunan lagu secangkir kopi panas
Bentangan pasir putih mengelinginya
Diiringi setapak berarti bagi mu 
Tanah lahir batin ku

Dengan bahasa nan indah
Bagaikan tangga nada yang merdu
Yang kau ucapkan wahai ibu pertiwi

Dikela batin ku menatapmu dalam indahnya mimpi
Melihat gelap kelabu telah tiada silih berganti dengan rona yang baru merah putih



Alhamda Ariqal



Selasa, 25 Oktober 2016

Ombak Pengantar Rindu

deburan ombak terus menyapu pasir pantai
membuatku terlena ingin terkena deburan itu..
aku yang sedang duduk menatap ombak pun terayu untuk masuk kedalamnya,
tanpa kusadari aku pun tenggelam dalam kenangan..
membuat ku ingin kembali permukaan
sayangnya air laut terus menyeretku tenggelam
membuat ku tidak bisa kembali
hanya rindu yang dapat kurasakan..


Raka Ziddan, Anyer
Oktober, 2016

Rabu, 07 September 2016

Digerogoti Awan Hitam

Dari kejauhan, aku lihat ada sesosok gadis menangis..
Meringkuk, menahan pedih yang sepertinya telah ia tahan begitu lama
Dahinya bertabrakan dengan lutut kecilnya sebari menutupi wajahnya yang memerah,
Tangisan demi tangisan ia keluarkan,
tubuh mungilnya terlihat sangat menyedikan
sendirian, tanpa seorang pun disampingnya..









Dia adalah aku

Titik lemah yang secara tak sadar telah tumbuh dalam jiwa dan ragaku.





Siapapun punya kelemahan yang ia simpan dalam dirinya,

entah tentang penampilan ataupun masa lalu kelam yang selalu menghantui sang empunya.


Berat rasanya, menghirup nafas disaat jiwa terasa terbelenggu oleh kegelapan sang malam
terbakar habis oleh lahapan api neraka, yang hanya menyisakan luka



Tanpa sadar, aku telah hidup dalam ketakutanku
Meraung-raung untuk kefanaan dunia semata
Mengosongi jiwa yang butuh dekapan
Mengantongi kebencian setan yang menyesatkan


ku habiskan air mata hanya untuk kekhawatiran tak berfaedah
menyiksa jiwa raga demi kebahagiaan ilusi semata


aku terlalu takut pada kelemahan diri sendiri; hingga lupa bahwa ada kekuatan disitu
bangkit, ucap hati tanpa henti
tiada tara aku mencoba, namun awan hitam itu terus menutupi cahaya terang dihidupku...


hingga aku tak tahu lagi,


dan dia,

tumbuh semakin hebat,



menghabisi semua semangat dan harapan untuk bangkit.