Minggu, 20 Mei 2018

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER DASAR - DASAR JURNALISTIK


Disusun oleh:
Nabilla Tasya Firdinia (175120207121004)
Balqis Fauzira Adawinsa Putri (175120207121017)
Natrisia Avisha (175120207121018)
Denaneer Bella Belinda (175120207121022)
Astuti Dila Wulandhari (175120207121024)

Menilik Lebih Dalam PTN-BH

Perguruan Tinggi Negeri (PTN) adalah perguruan tinggi yang di kelola oleh pemerintahan dibawah Departemen Pendidikan Nasional dan departemen pemerintah lainnya. Indonesia telah memiliki 11 kampus yang telah terdaftar menjadi Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTN-BH), yaitu perguruan tinggi pemerintah yang yang berstatus sebagai badan hukum publik, diantaranya; Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanuddin, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Airlangga. Selain PTN-BH, terdapat juga PTN Badan Layanan Umum (PTN-BLU), yaitu perguruan tinggi yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya. Beberapa contoh PTN BLU, yakni Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Sebelas Maret, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Jenderal Soedirman, dan perguruan tinggi lainnya yang tidak termasuk dalam PTN-BH.

Infografik : Wulandhari
Perbedaan yang mendasar dari PTN-BH dan PTN-BLU, salah satunya terlihat dari segi penetapan status. Penetapan PTN-BH dilakukan dengan peraturan pemerintah, sedangkan penetapan PTN-BLU dilakukan dengan Keputusan Menteri Keuangan atas usul Menteri Ristek dan Dikti. Untuk keuangan dan layanan, Pendapatan BLU dilaporkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), sedangkan pendapatan PTN Badan Hukum bukan merupakan PNBP. Dari segi aset, aset BLU merupakan aset yang harus dikonsolidasikan dalam Barang Milik Negara (BMN), sedangkan aset yang diperoleh dari usaha PTN BH merupakan aset negara yang dipisahkan, dan aset berupa tanah yang berada dalam penguasaan PTN BH yang diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan barang milik negara. Sementara itu, tarif layanan BLU ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasar usulan pimpinan BLU dengan mempertimbangkan aspek kontinuitas dan pengembangan layanan, daya beli masyarakat, asas keadilan dan kepatutan, serta kompetisi yang sehat. PTN Badan Hukum menetapkan tarif biaya pendidikan berdasarkan pedoman teknis penetapan tarif yang ditetapkan menteri. Dalam penetapan tarif, PTN Badan Hukum wajib berkonsultasi dengan menteri. Tarif biaya pendidikan ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi mahasiswa, orang tua mahasiswa, atau pihak lain yang membiayai mahasiswa. Selain itu, dari segi otonomi kampus, PTN-BH dapat mandiri dalam membuka dan menutup program studi yang ada di lembaganya, sedangkan PTN-BLU tidak bisa.


Berita ini bertujuan untuk menilik lebih dalam sebenarnya apa itu PTN-BH, apa kekurangannya, dan apa kelebihannya. Karena PTN-BH ini cukup banyak di protes oleh mahasiswa di berbagai universitas karena PTN-BH ini dianggap menjurus kepada ‘privativasi’ dan ‘komersialisasi’. Beberapa aksi dilakukan mahasiswa dengan upaya menolak komersialisasi tersebut, aksi yang dilakukan baru-baru ini adalah “Aksi 2 Mei” yang dilakukan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) pada tanggal 2 Mei 2018 dengan tujuan untuk menolak PTN-BH UB dan menuntut pemberian transparansi informasi dari tim khusus PTN-BH UB. Mahasiswa UB menganggap bahwa PTN-BH akan mempersulit mahasiswa dalam pembayaran Uang Kuliah Tunggal atau biasa disingkat UKT. Akan tetapi di balik stereotip yang berada di kalangan masyarkat terutama mahasiswa di Indonesia, perlu kita ketahui lebih dalam mengenai PTN-BH itu sendiri.


Pertama kita perlu ketahui bahwa PTN-BH adalah perguruan tinggi negeri yang didirikan oleh pemerintah yang berstatus sebagai badan hukum publik yang otonom. Sejumlah PTN di Indonesia berbentuk BHNM (Badan Hukum MIlik Negara), empat perguruan tinggi pertama yang ditetapkan secara bersamaan sebagai BHMN pada tahun 2000 adalah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, dan Institut Teknologi Bandung. Dengan menyandang status BHMN, perguruan tinggi tersebut memiliki otonomi penuh dalam mengatur anggaran rumah tangga dan keuangannya sendiri. Untuk menjadi PTN-BH harus melalui proses yang tidaklah mudah untuk menjadi kampus dengan status PTN-BH. Pemerintah menetapkan syarat yang sangat ketat bagi setiap perguruan tinggi negeri untuk mencapai status badan hukum, ini adalah beberapa pra-syarat yang harus dipenuhi mengurus menangani registrasi kemahasiswaan dan alumni yang ada, mata kuliah dan kurikulum, manajemen yang meliputi keterlibatan majelis amanat meliputi senat dan perwakilan mahasiswa, perolehan dan pendapatan, Administrasi Professional, yang meliputi tenaga memenuhi syarat, bentuk pelatihan keterampilan, bimbingan dari pemerintah, PTN berstatus Badan Hukum harus memiliki empat pondasi kuat yakni kerangka legal yang kuat, jaminan mutu, bangunan harus berstandar AISO, dan administrasi professional.

PTN-BH membebaskan institut untuk mengatur otonominya sendiri, dengan adanya hal tersebut menunjukan bahwasannya setiap PTN yang telah terdaftar berbadan hukum dibiarkan untuk mengatur bagian administrasi universitasnya sendiri tanpa ada campur tangan dari pemerintah, mengingat negara hanya membiayai sebagian, oleh karena itu sering kali kendalanya adalah sistem keuangan di PTN-BH kurang transparan, seperti kesulitan dalam mengelola anggaran yang diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD), sehingga serapan anggaran menjadi rendah dan sistem laporan keuangan yang diterapkan Kementerian Keuangan (KEMENKEU) cukup rumit dan tidak sesuai dengan kegiatan akademis. Selain itu, sistem yang dijalankan juga diserahkan kepada kebutuhan pasar dan kepentingan korporasi. Hakikat perguruan tinggi seharusnya dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi harus menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 menyebutkan bahwa Tridharma Perguruan Tinggi yang  disebut Tridharma adalah kewajiban Perguruan Tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat bukan untuk niat korporasi. Namun pada akhirnya,  segala hasil dan upaya yang dilakukan pihak universitas disesuaikan untuk permintaan pasar.

Bukan hanya itu,  berdasarkan bunyi Pasal 83, sumber dana Pendidikan Tinggi berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), juga dapat berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sebagaimana juga yang terdapat dalam dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 4 yang menyatakan Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20%  dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Namun karena PTN-BH telah diberikan kebebasan penuh, maka hanya akan mendapatkan anggaran yang sedikit. Oleh karena itu , maka PTN-BH harus mengikuti pasar.Konsekuensi lainnya adalah dengan berada dibawah label  PTN-BH juga memaksa Universitas untuk selalu melakukan perubahan besar sehingga dapat terus bersaing untuk menjadi yang terbaik.


Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (MENRISTEKDIKTI) Mohamad Nasir menuntut PTN-BH untuk dapat bersaing secara internasional di sela  pertemuan 11 PTN-BH di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Rabu (4/4/2018) dilansir dari surabaya.tribunnews.com. Menurut pria berumur 57 tahun tersebut, jika tidak menata diri dengan baik, efisiensi tidak dilakukan dan kualitas tidak ditingkatkan, maka tidak akan mampu bersaing. Ia menyarankan agar pemborosan untuk tidak terjadi lagi, selain itu kualitas dosen pun harus selalu ditingkatkan. Karena telah diberikan kelonggaran, diharapkan PTN-BH juga dapat lebih baik lagi dalam berinovasi sehingga dapat terus berkembang, mengingat banyak PTA (Perguruan Tinggi Asing) yang akan didatangkan menurut wacananya.


Pro dan kontra telah lama terjadi, seperti yang telah diungkapkan Sadli Isra, Guru Besar Hukum Tata Negara dari Universtas Andalas Padang, serta Ahli Hukum Yusril Ihza Mahendra selaku saksi ahli pemohon dalam sidang Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta pada Kamis (7/3/2013),  5 tahun lalu. Dilansir dari dukasi.kompas.com, Sidang yang menguji sejumlah pasal dalam Undang-Undang (UU) Pendidikan Tinggi (PT) itu dipimpin oleh  Hakim Konstitusi yang bernama M. Alim dengan bahasan menitikberatkan keterangan dari saksi ahli dan saksi Pemberian status perguruan tinggi negeri badan hukum otonomi yang terdapat dalam UU No 12/2012 tentang pendidikan tinggi. PTN-BH dinilai sebagai upaya pemerintah untuk lepas tangan dari kewajibannya membiayai pendidikan karena diyakini sebagai bentuk komersialisasi pendidikan. Pria berumur 49 tahun tersebut menilai keberadaan PTN berbadan hukum tidak ada bedanya dengan menghidupkan kembali UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang sudah dibatalkan MK. Menurutnya, PTN-BH ini substansinya memiliki kesamaan dengan UU BHP yang dimana menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memperjelas tanggung jawab negara dalam pendidikan sehingga pembuat UU berikutnya tidak akan salah dalam menempatkan  peran negara atau pemerintah.

Yusril pun turut meragukan PTN-BH karena dianggap akan membebani keuangan mahasiswa. PTN BH yang praktiknya seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini harus mandiri dan berbisnis. Herry Suhardiyanto yang saat itu menjabat sebagai Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) dan selaku saksi pemerintah meyangkal anggapan adanya otonomi pendidikan karena mahalnya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Otonomi pendidikan yang diterapkan dianggap tidak membatasi akses pendidikan mahasiswa tidak mampu. Pernyataan Herry didukung oleh M. Syarifudin selaku mahasiswa Universitas Negeri Jakarta penerima beasiswa bidikmisi  yang mengatakan bahwa tidak ada kesulitan untuk mahasiswa kurang mampu untuk berkuliah.

PTN-BH dapat begitu longgar dan fleksibel dalam menjalankan tugasnya sebagai Perguruan Tinggi, namun dibalik mendapatkan kewewenangan seperti ini kelonggaran tersebut dapat saja menjadi rawan, hal-hal berbau negatif seperti korupsi dapat terjadi. Menurut Indonesia Corruption Watch (ICW) “kewenangan besar dengan akses pengolahan dana membuat para calon rektor melakukan suap untuk mendapatkan posisi tertinggi di universitas negeri. Seakan para petinggi kampus saling berebut jabatan tak segan melakukan tindakan yang tidak benar demi mendapatkan kursi jabatan.”  Hal seperti ini lah yang membuat PTN-BH dipandang ke arah “privativasi” dan “komersial”, akan tetapi kampus Institut Teknologi Surabaya yang telah mengubahnya menjadi PTN-BH pada tahun 2017 membuktikan sebaliknya. Rektor ITS, Prof. Joni Hermana mengungkapkan bahwa 2 fakultas menjadi 4 fakultas. Sehingga dari 8 fakultas ITS kini mempunyai 10 fakultas. Ia mengatakan pemecahan  2 fakultas ini bertahap mulai dari tahapan kesiapan infrastruktur baik sarana, prasana, maupun SDM struktural yang baru. Di saat yang sama, ITS melakukan beberapa pelantikan pejabat unit kerja lainnya. Dosen dan guru besar ITS banyak yang masuk ke dalam organisasi profesi. Bahkan mereka akan membentuk Lamsama (Lembaga Akreditas Mandiri Sains dan Ilmu Formal). Hal ini membuktikan bahwa keberadaan PTN-BH juga membuktikan bahwa program studi sudah memiliki tenaga pengajar yang professional.

Berdasarkan penjabaran mengenai PTN-BH yang tertera di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa PTN yang berstatus sebagai PTN-BH lebih mudah untuk mengatur keuangan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya serta dapat memaksimalkan program-program dari kementrian seperti yang dikatakan oleh Rektor ITS, Prof. Joni Hermana kepada RISTEKDIKTI.  Dalam konteks biaya pendidikan atau UKT, mahasiswa yang terdaftar dalam PTN-BH melewati seleksi dan pengumpulan bukti-bukti yang sangat ketat untuk menentukan UKT yang akan ditentukan oleh PTN yang bersangkutan, seperti yang dilakukan Universitas Indonesia pada saat daftar ulang. Hal ini membuat PTN-BH tidak selalu terarah kepada “privatisasi” atau “komersil” yang cenderung dikenal sebagai kampus yang biaya pendidikannya tinggi karena pada akhirnya semua tergantung kepada persepsi masing-masing, dari sudut pandang manakah kita melihatnya, mengingat pasti dalam suatu sistem akan selalu ada kekurangan maupun kelebihan. (zir/dna/nat/nab/wln)

Minggu, 15 April 2018

Bingung

Ingin merindu,
Tapi aku siapa?
Tak tahu tuh.
Kan semua memang kehendakmu seorang.

Jangan-jangan, ini hanya ilusi semata?

Minggu, 04 Maret 2018

Delusi

Mengapa pikiran ini kian membuncah?
Astaga, bedebah.

Satu garis telah tergambar.
Dua garis makin melebar.
Tiga garis mulai melonggar.
Wah, empat garis terkoar-koar.

Sialan,
aku mulai tak karuan.

02.04 AM
Gabisa tidur dikamar kost,
Malang 5 Maret 2018

Semoga

Rupanya aku disana,
Jauh.
Mencari jalan pulang.

Setitik harapan meraba-raba,
Indah.
Ah, semoga aku tidak tersesat.





Kayaknya sekitar 01.53 AM
Lagi ngelamun saat kebangun di H.O.T,
Malang, 3 Maret 2018.

Kamis, 01 Maret 2018

Jangan Dicari

Sendiri mulai menjadi teman
Senyuman tak pernah lupa untuk disunggingkan
Namun rasanya ada yang salah,
Keramaian yang memanggil sepi
Kehangatan yang memicu dingin
Kenyamanan yang rupanya, tak terasa lengkap.

Ada yang kosong.

Ternyata, itu saya.
Saya yang hilang.

01:42 AM
Malang, 1 Maret 2018

Kamis, 26 Oktober 2017

Kenapa?

Terngiang-ngiang di kepala saya,

Kenapa?

Kenapa saya begitu lemah?
Tak tahu maksudnya apa,
Untuk konten yang seperti apa
Tapi saya sangatlah naif.

Saya lelah.
Lelah terus bertanya kepada diri saya sendiri
Lagi-lagi saya harus bergumam 'kenapa' tiap harinya
Saya bahkan tak tahu darimana letak pertanyaan itu berasal
Saya ragu untuk bahkan sekedar memikirkannya, apalagi menjawabnya
Sulit sekali, saya memilih hening
Maaf, tapi saya tidak tahu


Tapi.. Kenapa?
Masihkah terpikir untuk mencoba dengan seseorang yang bahkan tak bisa merumuskan jawaban untuk sekedar pertanyaan simpel?


Ini bukan puisi,
Tapi ini pertanyaan juga pernyataan saya

Kenapa, bung?

Kamis, 05 Oktober 2017

Angan , Lalu Paham Tertumbuk

Gagal. Semuanya pasti pernah merasa begitu. Harapan kadang memang jauh kenyataannya dengan realita yang harus kita hadapi.  Terkadang, saya pribadi merasa bingung.

“Untuk apa saya berharap?”

Pertanyaan itu kerap kali muncul dalam benak saya, terlebih apabila saya sedang merasa hancur. Merasa jadi manusia paling tidak berguna, yang hanya dapat membuat susah sekitar. Pikiran buruk terus menggerogoti sisi positif saya, bahkan dengan membabi butanya hingga membuat saya kehilangan kepercayaan dalam diri saya sendiri.

Menangis. Perilaku kekanak-kanakkan yang sering saya lakukan jika sedang berada dalam posisi terpuruk. Saya sering bertanya-tanya, bahkan kepada Allah, dalam doa dengan memohon petunjuk kepada-Nya agar diberi kemudahan, sehingga saya bisa dengan cepat menemukan jati diri. Saya sering merasa hilang jalan, kadang saya memaki diri sendiri karena saya terlalu pasrah mengikuti alur, namun saat saya sudah mencoba memberontak, selalu saja ada halangan. Entah karena pikiran negatif saya atau memang sudah jalannya begitu. Ironis sekali, kan?

Seperti sebuah peribahasa yang saya jadikan judul "Angin Lalu Paham Tertumbuk" dengan artian menghemat pikiran atau untuk tidak terlalu berpikir banyak bahwasannya memang dapat dilakukan, namun ketika setelah dijalani dan pada akhirnya ternyata tidak mudah atau tidak dapat direalisasikan, hal tersebut dapat membuat kita kehilangan akal. Mungkin kata-kata saya terdengan sangat dramatis bahkan tergambar jelas bahwa saya adalah orang yang melankolis. Menulis itu obat terbaik jikalau saya sedang memiliki konflik batin, dimana saya sendiri tak bisa mengungkapkannya melalui kata secara verbal namun sangat lancar jika harus saya tulis.

Namun, saya tahu bahwa memang seperti inilah hidup. Hal yang tidak mungkin jika saya akan selalu berjalan pada jalanan yang lurus, pasti akan selalu terdapat hambatan diantaranya. Merasa jatuh adalah fase saya untuk lebih dewasa lagi, Allah sedang menyiapkan saya untuk menjadi pasukan yang kuat, secara fisik dan mental. Pikiran positif tersebutlah yang membuat saya masih merasa hidup, disamping kehampaan yang saya sering rasakan, kejenuhan yang mengusik kehidupan saya.

Dekat dengan Sang Pencipta adalah solusi terbaik, mengapa?

Sejatinya kita merasa kosong karena diri kita jarang bercengkrama dengan-Nya, merasa hebat hingga lupa bersyukur, namun bila sedang diterpa masalah, barulah kita mengemis belas kasihan kepada-Nya. Berperilaku sebaik mungkin agar dapat ampun darinya.

Dahulu saya adalah anak yang sangat penurut, tak pernah sedikit pun membangkang, hidup saya sangatlah damai, hingga pada akhirnya perceraian kedua orang tua saya mengagetkan saya, yang saat itu masih duduk dibangku kelas 3 SD. Saya masih bingung dengan keadaan dimana saya dipaksa untuk hanya tinggal dengan salah satunya, kakak saya pun hanya berdiam diri, mencoba menerimanya, mengingat tak ada yang bisa kami lakukan karena kami berdua masih dibawah umur. Bisa dibilang itu merupakan salah satu kegagalan saya, namun bukan yang terberat. Kegagalan yang paling menghancurkan hati saya adalah bahwa saya membiarkan hal itu terjadi dan berpura-pura biasa saja sehingga justru banyak hati yang tersakiti namun saya mengacuhkan mereka. Saya sendiri sedang mencoba berjuang, saya pikir hidup dalam keluarga yang sudah tercerai-berai tidaklah sebuah masalah yang besar, meski banyak sekali orang yang kerap kali bertanya apakah saya baik-baik saya. Namun sebenarnya itulah akar masalahnya, sifat saya berubah sedikit demi sedikit, kearah yang terkadang bersifat negatif. Saya punya sifat tidak percaya diri dan terlalu mudah percaya pada siapapun sehingga seringkali mendapat perilaku yang seenaknya.

Maksud saya menceritakannya adalah memang benar, kegagalan itu menyakitkan. Namun jika hanya dengan menangis, takkan pernah ada masalah yang terselesaikan. Hanya ada luka yang terus membesar dan jika dibiarkan terlalu lama akan berubah menjadi lubang hitam, lalu pada akhirnya melahirkan kebencian, juga menjadi akar dari keburuksangkaan, bahkan pada Allah; Hilang sudah kepercayaan kepada-Nya.

Jangan sampai kita menjadi pribadi yang seperti itu. Bersedih hati itu bukanlah sebuah dosa, apalagi sebuah aib. Jangan pernah lupa untuk bersyukur dan mencintai diri sendiri.

Sepertinya cukup sampai disini dulu ya hehehe aku udh lama gak nulis jd basa-basi aja hehehe, maaf kalo makin menurun dan maaf lagi gak mood update soal cinta, karena saya sendiri sedang bingung hehehehe. Jangan lupa difollow!!

Minggu, 02 Juli 2017

Feeling Guilty

Semakin lama, aku semakin takut untuk mencinta.
Saat ada orang lain menunjukan perasaannya padaku, aku selalu mendorong mereka pergi, karena luka di masa lalu itu tak kunjung sembuh, masih membekas dan semakin terasa perih.

Aku takut justru rasa itu semakin memburuk jika aku membuka diri pada orang lain.

Aku hanya memfokuskan segalanya pada hal yang aku harus raih, seperti pendidikan. Cinta hanya aku ekspresikan kepada idolaku, keluargaku, temanku, sampai kepada diriku sendiri.

Sejatinya, sebelum kita mencintai seseorang, kita harus bisa mencintai diri sendiri dahulu. Menghargai perasaan sendiri, juga memperlakukan diri sendiri sebaik mungkin. Disaat iming-iming cinta hanya ditujukan kepada lawan jenis, seringkali kita lupa bahwa diri kita terbengkalai sendirian, tak ada yang memperhatikan, bahkan barang menengok sedikitpun tak pernah.

Jadi, mencintai diri sendiri itu adalah kewajiban yang selalu kita lupakan dan sesuatu yang harus kita lakukan mulai sekarang.

Kalian tahu kan rasa sakit yang tak kunjung hilang? Semakin kalian mencoba menyembuhkannya, semakin parah juga hasilnya. Aku mencoba tegar dan melakukan banyak hal namun selalu gagal. Hasilnya nihil.

... Dan sekarang, rasa sakit ini semakin membunuhku.

Sabtu, 11 Maret 2017

Coretan Kecil

Aku lelah berpura-pura.
Seolah hati ini sanggup, menanggung luka pedih ini seorang diri.
Diri ini bukan pahlawan super,
Bahkan seorang pahlawan pun akan tetap merasakan pilu dihatinya.
Hati ini bukan baja,
Mungkin memang terlihat kuat, namun sebenarnya rapuh.

Kau tersenyum seolah tak pernah ada yang terjadi,
Kau memandangku seolah tau aku rapuh, tapi tak berbuat apa-apa.
Kau mengetahuinya,
Rasa sakit yang kau timbulkan begitu dalam itu.
Keserakahanmu akan nafsu setan itu, kau menyadarinya.
Tapi kau hanya diam, seolah kau tak pernah mengingkari apapun.


Air mata tak pernah menyelesaikan semuanya,
Sebanyak apapun aku menangis, tak pernah menyudahi apapun.
Kau minta aku untuk berhenti,
Tapi kau pun tak pernah berusaha untuk menghentikannya.
Kau yang memulai, lantas mengapa harus aku yang menghentikannya?


Pernahkah sedetik pun, kau peduli dengan perasaan ini?
Perasaan yang dengan tak tahu malunya, kau renggut lalu kau buang entah dimana itu.
Perasaan yang kau buat melayang-layang, lalu kau lemparkan dengan sadisnya.
Perasaan yang hanya luka kau tinggalkan disitu,
Namun perasaan yang selalu merindukan sang perusak, meski hanya ada luka disitu.


Kau anggap aku mendramatisir,
Tapi dimana semua usahamu itu?
Usaha yang menbuat aku goyah awalnya.
Usaha yang hanya bualan semata.
Apakah semua itu telah hilang tertelan semua kebusukanmu?


Itu bukan cinta, tapi hanya nafsu semata.
Dan kau takkan pernah bisa memperbaiki semuanya,
Karena kau memang merusaknya dengan sengaja.


Terus saja, lakukan ini. Entah dengan sayatan atau langsung dengan tusukan.
Sakiti tanpa ampun. Lakukan semuanya semaumu.

Hanya jangan pernah lupa, semua yang kita tanam adalah yang kita tuai.

Sabtu, 29 Oktober 2016

Tak Tahu Malu

Hati itu, kau tahu
Memang tak tahu malu.


Lantas mengidamkan sesosok manusia yang  diselimuti cinta
Hati justru memilih yang tak ada kepastian
Seseorang yang penuh luka dan kebencian dalam jiwanya
Sungguh, membuat diri kadang bagai terombang-ambing diantara mimpi sendiri..


Aku berpikir untuk menyerah atas cinta,
Karena tak patut juga untuk memperjuangkan hawa nafsu setan itu
Tapi diri ini lemah, butuh asupan kecupan dan pelukannya
Butuh nyanyian dan kata-kata rindu yang memenuhi gendang telingaku..

Dasar jalang,
Hati ini penuh dengan keserakahan
Dibutakan atas rasa bergejolak sementara
Hati ini berdegup kencang tatkala seseorang menyebut namanya..


Hei, jikalau aku punya pilihan atas kehendak terkutuk ini
Lebih baik ku sudahi saja semua drama setan ini
Ku bakar perasaanku dalam singgasana singa yang marah
Meraung-raung butuh didekap dan dicinta selamanya..


Hati itu, kau tahu.
Memang tak tahu malu.


Rasanya jiwa ini terbang seiringan dengan harapan palsu yang kuimpikan
Aku mengaku salah, sialan
Aku pantas di cacimaki, sangat
Aku memang ceroboh, maaf


Memang semborono hati ini, memilih seseorang yang tak pantas untuk dicintai
Memang ruam hati ini, perlu beberapa jaitan pelajran atas kasih sayang
Entah,
Harus ku nikmati kesombongan ini
Atau..
Ku letakkan dalam jurang mimpi burukku
Pergi..
Dan takkan pernah ku menggapainya lagi.











Bzzz idk gue nulis apaan. Yang penting ngepost hasil sendiri. Sejauh ini sih, gue gak ngerasa nulis puisi, cuman kayak tulisan aja. Thanks for reading!! Jangan jadi silent reader ya, follow juga blognya kalo bisa. Thank you all!!

Jumat, 28 Oktober 2016

Rona

Lantunan lagu secangkir kopi panas
Bentangan pasir putih mengelinginya
Diiringi setapak berarti bagi mu 
Tanah lahir batin ku

Dengan bahasa nan indah
Bagaikan tangga nada yang merdu
Yang kau ucapkan wahai ibu pertiwi

Dikela batin ku menatapmu dalam indahnya mimpi
Melihat gelap kelabu telah tiada silih berganti dengan rona yang baru merah putih



Alhamda Ariqal



Selasa, 25 Oktober 2016

Ombak Pengantar Rindu

deburan ombak terus menyapu pasir pantai
membuatku terlena ingin terkena deburan itu..
aku yang sedang duduk menatap ombak pun terayu untuk masuk kedalamnya,
tanpa kusadari aku pun tenggelam dalam kenangan..
membuat ku ingin kembali permukaan
sayangnya air laut terus menyeretku tenggelam
membuat ku tidak bisa kembali
hanya rindu yang dapat kurasakan..


Raka Ziddan, Anyer
Oktober, 2016

Rabu, 07 September 2016

Digerogoti Awan Hitam

Dari kejauhan, aku lihat ada sesosok gadis menangis..
Meringkuk, menahan pedih yang sepertinya telah ia tahan begitu lama
Dahinya bertabrakan dengan lutut kecilnya sebari menutupi wajahnya yang memerah,
Tangisan demi tangisan ia keluarkan,
tubuh mungilnya terlihat sangat menyedikan
sendirian, tanpa seorang pun disampingnya..









Dia adalah aku

Titik lemah yang secara tak sadar telah tumbuh dalam jiwa dan ragaku.





Siapapun punya kelemahan yang ia simpan dalam dirinya,

entah tentang penampilan ataupun masa lalu kelam yang selalu menghantui sang empunya.


Berat rasanya, menghirup nafas disaat jiwa terasa terbelenggu oleh kegelapan sang malam
terbakar habis oleh lahapan api neraka, yang hanya menyisakan luka



Tanpa sadar, aku telah hidup dalam ketakutanku
Meraung-raung untuk kefanaan dunia semata
Mengosongi jiwa yang butuh dekapan
Mengantongi kebencian setan yang menyesatkan


ku habiskan air mata hanya untuk kekhawatiran tak berfaedah
menyiksa jiwa raga demi kebahagiaan ilusi semata


aku terlalu takut pada kelemahan diri sendiri; hingga lupa bahwa ada kekuatan disitu
bangkit, ucap hati tanpa henti
tiada tara aku mencoba, namun awan hitam itu terus menutupi cahaya terang dihidupku...


hingga aku tak tahu lagi,


dan dia,

tumbuh semakin hebat,



menghabisi semua semangat dan harapan untuk bangkit.



















Minggu, 28 Agustus 2016

sandiwara

what if i get used to without you?cause as the time goes by, i feel like my life is better without you.




hari-hariku terasa seperti biasa; dengan atau tanpa dirimu.
aku tetap bisa tertawa, menangis, menjalani semua drama kehidupan ini.






waktu mengajariku rahasia untuk bersabar, 
kamu mau tahu apa jawabannya?


tidak ada,



kita hanya perlu mengerti, untuk apa kita bersabar dan untuk siapa kita melakukannya.



dan tentu saja. itu sulit. 




aku sendiri tidak tahu aku menuliskan apa,
rasanya puisi cintaku terdengar begitu klise,
kata-kataku terdengar begitu naif,
tapi kau perlu tahu satu hal yang pasti,
hati ini begitu luka,
jari ini terasa kaku,
mataku sudah basah saat mengakhiri tulisan gila ini.


kamu tahu, kan?
aku mencoba kuat tanpamu, bayanganmu seolah sudah hilang dari hidupku
walau faktanya namamu terbelenggu dalam rasa sakitku


oh ya, kamu pasti tak tahu.



bahkan jikalau Tuhan mengakhiri kepedihan tak berujung ini,
aku akan tetap memilih menjalaninya.




kenangan bahagia kita memang tak banyak,
tapi aku hanya ingin semua sandiwara gila ini berhenti
aku ingin menyudahi semua kekonyolan yang kau buat ini
menyumpahi semua prilaku burukmu ini



untuk apa aku harus berhenti mengenali seseorang yang telah membuat hariku seolah runtuh
tak bernafas, tanpa mimpi..
jiwaku terasa begitu kosong



karena sang empunya menolak untuk dipikirkan
belati pun takkan mampu merusak hati ini 
jikalau bukan kamu yang menusuknya


sejujurnya, aku hanya butuh senyumanmu
senyuman yang selalu kutunggu
senyuman yang selalu menghampiri malamku
menghampiri mimpiki, merubah cakrawala pandangku tentang dunia





bisakah kita menyudahi semua ini?
aku muak dengan egoisme mu yang tinggi
aku merasa dijatuhkan ke bagian bumi paling dasar
dimana kamu hanya melihat dari atas
bahkan tanpa menyunggingkan senyumanmu sedikit pun.

Kamis, 28 Juli 2016

push and pull

i fell into the depth of misery
cry me a river for this shocking hole
try to climb up but all i got is a wound
remain as a scars that left forever
couldn't be gone as if the time goes by




i wonder,
why me after all struggles i have done
why me after all the tears i have wasted
why me after all the happiness they took away
why me after  all the problems i should face 
time flies so fast,
my knees still on the floor
reaching out the high hopes
realizing all the puzzling thing



i wish i have an anterogade
for all the memories i dont want to recall
i am tired dealing with the complex problems
finding solution and get over it


withdrawn,
that's what i feel as if i am a humankind
overreact,
that's a normally thing for me to push myself
i have excelled in all the things i put so much effort on
although  the voices on my head keep screaming to set them free


Sabtu, 23 Juli 2016

Pernah Ada

   Kalian tahu dan pasti mengerti, perasaan ingin mengulang kembali semua hal itu seperti apa. Ingin memperbaiki apa yang sudah dirusak, bahkan membuat hal yang indah menjadi lebih indah. Serakah. Egois. Penuh gairah. Kita akan berada di titik terbawah, seperti merosot di sebuah perosotan kecil, disaat badan kita bahkan lebih panjang dari ukuran perosotannya, tapi kita tetap memaksakan kehendak dan berakhir menyakiti diri sendiri, mencoba menutupinya dengan lelucon yang kita buat, tertawa hingga akhirnya menangis, meratapi nasib yang sungguh, mungkin akan mendapatkan piala oscar karena jalan ceritanya yang tak berujung dan penuh dengan drama yang memacu adrenalin para pemain maupun penontonnya.

  Aku disini ingin berbagi cerita, agak panjang, mungkin akan membuat kalian mengantuk. Itu pilihan mau melanjutkan apa tidak. Aku tidak pernah maksa, kan?

                                                               *******************

  Aku merasa kehilangan, dikhianati, rasanya seperti aku adalah orang terbodoh didunia ini. Aku bangun dengan mata sembabku, memulai hari dengan senyuman yang selalu aku lukiskan pada wajahku. Mulai memasang topeng lakonku, dengan tepat dan perlahan, takut akan jatuh dan semua kebohonganku akan ketawan dan membuatku mati kutu. Aku dikenal sebagai orang yang mudah akrab dengan seseorang, banyak yang suka aku karena kepribadianku ini, namun tak sedikit juga yang membenci, seperti sebuah pepatah, "Tuhan saja dibenci setan." Jadi, aku ini hanya ciptaanNya. Tak mungkin juga untuk kita memaksakan semua orang untuk menyukai kita, bisa saja, namun hasilnya aku akan ditusuk dari belakang.


  Aku mengenal banyak orang dan menjadi dekat dengan sangat mudah, namun kehilangan dengan cepat juga. Ada satu orang yang ingin aku ceritakan. Dia baik. Pintar. Lucu. Wajahnya, biasa saja tapi hatinya sangat indah. Ia selalu ingin menjaga hati setiap orang, semua yang dia lakukan terlihat berwibawa. Tak jarang aku meminta saran kepada dia, sering juga ia mengingatkanku untuk mengontrol kelakukanku, menjaga kesehatanku, dan memintaku jauh darinya, karena dia takut akan ada omongan tak enak bila orang tahu. Ditambah lagi, dia hanya ingin membantuku dan semua yang dia lakukan kepadaku selama ini hanyalah karena rasa tidak teganya, hati yang selembut surta miliknya itu memang agak sensitif.


  Aku memaksakan kehendak. Mencoba untuk memperbaiki keadaan. Melakukan apapun agar dia tidak pergi. Menceritakan apapun agar dia merasa bertanggung jawab terhadapku. Tapi yang kudapat justru cacimaki darinya, dia menjauh, melakukan semua hal yang ia bisa untuk menghilang dari pandangku. Tapi... Aku terus mencoba. Sampai akhirnya, aku sadar. Aku hanya terbawa suasana. Namun, aku salah. Aku memang tidak mau kehilangannya. Ia seperti tisu yang menghapus tangisku disaat tak ada jari yang akan mengusapkannya untukku, seperti bantal kesayanganku yang kujadikan tempatku menuang dan mengeluarkan tangisanku, disaat tak ada bahu yang bisa aku jadikan sandaran, dia benar-benar berharga, namun dia hanya melihatku sebelah mata. Memandangku bagai aku ini kuman, harus dijauhi dan dimusnahkan. Aku bukan mau memilikinya, tak pernah terbisit pikiran seperti itu, aku hanya sedih mengapa ia pergi dengan cara senaif itu? Memperlakukan aku tidak ada dan memerankan lakon antagonis yang sungguh, aku muak melihat itu.



  Maksudku adalah, jika kita memang ingin pergi. Katakanlah dengan baik-baik. Jelaskan dengan rinci, agar tidak ada hal yang ganjal di semua pihak. Setidaknya, kau pernah ada. Terimakasih Allah, atas nikmat yang pernah kau berikan kepadaku. Aku yakin, kau akan menggantikannya dengan seseorang yang lebih baik, yang lebih mengerti bagaimana mengucap selamat tinggal. Tak mungkin tanpa air mata atau luka yang ditinggalkan, pasti ada, dan memang sudah seharusnya begitu. Setidaknya, jangan pernah pergi dalam diam, karena diam memang emas, namun apakah yakin itu benar-benar emas? Bukan besi yang akan meninggalkan karat?

Selasa, 05 Juli 2016

Love Letter #1

Hai, kelabu.

Aku hadir disini, sebagai pelangi.
Aku siap membuat kelabu diharimu menjadi warna-warni.
Kau mau tahu? Bahkan disaat kau mencari berbagai jalan untuk menghindar dariku,
Aku akan selalu disitu. Jalanku lebih luas daripada milikmu.
Menyeramkan, ya? Bingung dimana kau bisa bersembunyi? Aku disini. Siap dijadikan pelabuhan hatimu. Kau bisa bersembunyi dibalik bahu kecilku. Gunakan saja, bahkan walau kau akan lupa pernah bersender pada bahuku itu.


Hari ini seruan "Allahuakbar" berkumandang di pekarangan rumahku. Pasti di sekitar tempat tinggalmu juga, ya? Hari yang ditunggu-tunggu akan datang. Tapi selain hari yang dikenal dengan lebaran itu, ada hari lain yang sangat aku tunggu. Hari dimana kau pulang. Kembali ke tanah kelahiranmu, walau tak mungkin bagimu untuk kembali pada pelukanku.


Ingat, tidak? Saat kita pertama kali bertemu, kedua matamu itu sudah membuatku mabuk kepayang, bahkan sebelum aku tahu namamu siapa. Nama yang sangat aku sukai, nama yang membuat hari-hariku lebih bersemangat, nama yang juga bisa membuatku bertekuk lemas dengan banjiran air mata dari mataku, menyapu semua bagian dipipiku.


Ingat, tidak? Saat pertama kali kau menyebut namaku. Suara indahmu itu bahkan terdengar lebih indah daripada apapun yang ada diluar sana. Jantungku serasa mau copot. Ingin lari saja rasanya, ke ujung dunia, bersamamu, dan dalam pelukanmu. Namun, pada akhirnya aku hanya mengurungkan niatku dan terbelenggu dalam mimpi itu. Mimpi memilikimu.



Ingat, tidak? Saat pertama kali, kita mulai dekat. Lewat media sosial, aku yang tadinya sangat malu berubah menjadi sangat agresif, dan syukurlah, kau memahaminya dan menganggap itu lucu. Kita dekat layaknya kakak dan adik. Dan kau juga pasti mengerti, kan? Bahwa kita.. Tak mungkin bisa jadi sekedar adik dan kakak itu. Tak mungkin bisa hanya menjadi teman, sahabat, atau apapun itu. Kita tahu. Tapi tak ada yang bisa kita lakukan.


Ada. Namun kau bersikap seolah tak mau tahu. Kau melakukan apapun semaumu. Kau memperlakukan aku semena-mena. Kau buat aku terbang ke langit ke tujuh, bertemu bidadari cantik, lalu kau terjunkan aku, ke neraka jahanam, bersama setan-setan itu. Setan yang sejatinya hidup dalam dirimu itu.


Kau bilang, aku lucu. Senyumku itu penawar sakit bagimu. Namun, tahukah? Kau lah pria yang paling sering membuat senyumku luntur, tergantikan oleh tangisan buaya, lalu berujung tangis. Hina sekali pujian lucumu itu.

Aku tahu. Dan aku mengerti. Sangat mengerti. Aku siapa dan kau itu siapa. Aku mengerti kita amat berbeda, mau disamakan lewat celah manapun, tak mungkin ada kesamaan yang akan ditemukan.


Aku adalah aku.


Dan kau adalah kau.


Kau, pria jahat.

Jahat telah membuatku jatuh cinta segitu besarnya.

Jahat telah membuatku rindu segitu tersiksanya.

Jahat telah membuatku begitu memujamu, hingga aku bahkan lupa, bahwa ada hal lain yang perlu kebereskan selain tentangmu, yaitu aku sendiri.


Aku masih rusak.

Jaitan dihatiku belum kering.

Kau bilang, kau rela menyembuhkannya.

Kau bilang, kau akan jadi penawar rasa sakitnya.

Tapi..

Aku rasa, jahitan itu mulai terlepas lagi karena luka yang kau buat tanpa hentinya.




Aku..


Disini,

Selalu menunggu.


Seperti sebuah anak kecil yang menunggu unicorn, tahu itu takkan datang, namun akan tetap ku tunggu kau.


Aku rindu kau.

Rindu diriku sendiri yang sudah mulai tersesat ini.


Rindu kita yang dulu.


Apakah bisa.. Sekali saja, kita bersikap seolah-olah, tak ada yang salah, dan marilah, mengulang sesuatu yang baru lagi?





Tertanda,


Zira. 

Senin, 04 Juli 2016

Mungkin... Nanti?

  Kadang, ada hal yang memang ditakdirkan untuk bisa kita lihat, namun tak bisa kita miliki. Begitu pun, dengan sebuah tas putih yang saya mau beberapa hari yang lalu. Saya pergi ke salah satu Pusat Pembelanjaan dan tepat disana, saya menatap sebuah tas cantik. Saat saya dekati, ternyata memang benar, harga tak pernah bohong. Bukannya saya tak punya uang, tapi, saat saya pikir panjang, untuk menghabiskan uang segitu, saya bisa dapat beberapa potong baju. Lalu, niat untuk membeli saya urungkan. Saya buang jauh-jauh kedalam memori yang tak dapat saya gapai. Keesokan harinya, saya menyesal. Karena ternyata bayang-bayang tas itu masih menghantui saya. Memohon untuk dimiliki. Dari sebuah tas saja, ada hal yang bisa saya pelajari.


"Sama seperti tas indah itu, seseorang yang kita cintai pun lebih baik hanya menjadi sebuah mimpi. Tak semua hal yang kita inginkan, bisa kita gapai semudah yang kita pikirkan. Sometimes it is better to be just a 'dream' karena setidaknya, kita hanya akan tersenyum saat melihatnya, meski hanya di alam mimpi."



Dari hal kecil, kita bisa belajar banyak. Entah cuman saya atau karena pola pikir saya yang agak dramatis, tapi jujur, sampai sekarang saya menyesal karena tidak jadi membeli tas itu, tapi saya juga bersyukur, karena disadarkan olehNya kalau masih lebih banyak manfaat yang bisa saya gunakan dengan uang yang bisa saja saya hamburkan untuk tas itu. Ya, sama saja, dengan masalah si dia, masih banyak hal yang bisa saya lakukan dibanding menangis dan mengaduh tanpa henti.


Karena nanti pasti akan ada saatnya kita bakal memiliki hal yang kita cintai, tunggu saja tanggal main dari Sang Ilahi. Ingat, kita bisa berencana, namun keputusan akhir hanya ada ditanganNya.

Wah, Ngomong-ngomong, lebaran sebentar lagi nih! Kalian mudik kemana, nih?


Sampe disini dulu, ya. Sampai ketemu nanti!

Minggu, 26 Juni 2016

Sad, Beautiful, Tragic. Life.

    Ketika hidup sudah tak sealur dengan pikiran bahkan dengan pilihan kita, rasanya ingin sekali mengaduh kepada sang Ilahi, namun sadarkah? TanpaNya, kita bukan apa-apa. Bangunlah. Hadapai kenyataan.


Ya begitulah kataku. Kata mereka. Kata orang-orang. Disaat kalian sedang dalam masalah hidup yang parah, anggaplah kalian masih dalam proses menuju kedewasaan, saat masalah yang masih saja menjadi bibit sel telur, lalu membesar dan akhirnya lahirlah menjadi seorang bayi dan tumbuh begitu besar, dan boom! Menjadi sebuah boomerang! Hancur sudah semua apa yang sudah kau coba rawat dari seorang bayi kecil tak berdosa hingga seorang dewasa yang tan luput dari dosa.


1. Sel Telur

Masih dalam sebuah proses pembuatan, masih dibilang terlalu kecil namun sebuah langkah yang besar. Begitu juga awal dari permasalahan. Teman, Orang Tua, Guru, bahkan diri saya sendiri seringkali menasihati diri saya sendiri

"Jangan terlalu membesar-besarkan masalah, gak ada gunanya. Kamu sendiri yang sakit."

Ya, aku sendiri yang sakit. Aku tau. Kita semua tau. Tapi justru, dari sel telur ini kita bisa belajar banyak, bagaimana cara belajar mengembangkannya, mau dibesarkan menjadi sebuah parasit? Atau menjadi sebuah kebanggan?


Disaat sel telur ini mulai membuahi sang ovum, lalu jadilah sebuah janin. Menempel. Tak akan lepas dan akan mulai memisahkan diri disaaat memang sudah waktunya tiba.


Begitu juga dengan masalah.



2. Bayi & Beranjak Dewasa


Saat akhirnya, bayi itu lahir, berarti itu sama saja dengan masalah itu yang mulai akan menjadi menghantui hidup anda. Tinggal pilihan kita saja, mau dibesarkan seperti apa?


"Inget, gak usah terlalu dibuat jadi sesuatu yang seharusnya gak ada nilainya." Begitu kata diri saya sendiri tiap kali saya punya masalah serius. Bohong memang kalau saya bilang gak apa-apa dan malah pura-pura asik menonton beranjak dewasanya bayi itu, ya, beranjaknya masalah itu, tinggal pilih saja, mau kalian yang dibuat bingung oleh masalah sendiri atau mau masalah itu yang anda buat bingung?

Dalam mengurus bayi, pasti cobaannya berat, kesabaran yang dibutuhkan bertubi-tubi, rasanya seperti pagi, siang, malammu semua waktumu hanya untuk bayi kecil itu, tangisannya, tertawanya, itu juga milik kita, nah, begitupun dengan masalah, dalam mulai menyelesaikan masalah, pasti kita tau kan, cobaan akan semakin diuji, namun disaat itu juga kita akan menjadi kuat, mental, atau malah jatuh? Kedasar jurang dan tak ditemukan dimanapun.


Saat anak itu mulai beranjak dewasa, sifatnya pasti sudah bak raja. Semua hal yang diinginkan harus terwujud, sebagai orang tua, kepala anda seperti akan meledak, hidup anda akan bercerai-berai, dan anda akan melakukan apapun, asalkan anak itu bahagia.


Begitupun, dengan masalah. Anda akan merasa mabuk, bahkan sampai ingin mati, namun lagi-lagi, anda akan melakukan apapun, untuk membuat masalah itu selesai. Bahkan jika harus ada kebahagiaan yang dikorbankan. Dan didalam tahap ini, masalah hidup anda berarti semakin memberat.


3. Dewasa & Menua


"Saat orang udah dewasa, pasti maunya jadi banyak. Tapi saat itu juga jadi sadar, kalo gak semua hal diraih semudah meraih buah cherry dipohonnya yang bahkan masih perlu usaha." Ya, itu kata-kataku. Berdasarkan beberapa bukti yang aku sudah saksikan juga. Karena saat dewasa ini, semua hal terasa begitu sulit, semuanya terasa begitu pilu, dan membuatmu terasa hilang ditempat berantah.


Klise dan lebay ya? Namanya juga hidup. Hehehehe.

Disaat sudah dewasa ini, masalah berarti sudah bersifat kronis, dan lagi-lagi yang bisa kita lakukan itu... Berusaha. Dari awalpun dari masih menjadi sebuah sel telur, harus ada usaha juga. Tinggal kita yang harus pandai memilih, menentukan semuanya sebaik mungkin. Jangan lelah. Jika perlu menangis, itu wajar. Saya pun pernah menangis semalaman tak henti. Namun berjanjilah, besok jangan menangis lagi!


Bohong ya? Tak apa. Menangis saja. Selama kita yakin, pasti ada jalan. Di masa dewasa ini, masalah yang bahkan semakin runyam, membuat kita semakin kuat dan semakin dekat dengan Sang Kuasa.



Aku bukan motivator, cuman berbagi. Semua orang punya masalah, tergantung bagaimana menyikapinya. Kadang pasti kalian mikir..


"Kenapa sih harus gue? Gak ada apa selain gue yang dikasih masalah berat banget?"

Ya. Kata-kata itu sering banget muncul dipikiranku. Menghantuiku. Menakuti hari-hariku. Mengutuk keinginanku untuk bahagia. Tapi, aku coba sabar, dan memang harus. Kita berpikiran seperti itu karena yang kita bandingkan selama ini adalah orang-orang diatas kita, coba saja sekali, lirikkan pandanganmu kebawah, tontoni rakyat yang tersiksa, jauh daripada kita yang bahkan untuk makan pun tak punya.


Sedih memang...



Salam semangat!


Mohon do'a ya untuk semua masalah. Segitu dulu.

Kamis, 23 Juni 2016

Sabar dan Kerinduan

  Bicara tentang kesabaran, pasti itu bukanlah hal yang mudah. Saat hati dan pikiranmu ditarik ulur, ingin marah namun tak bisa, sulit rasanya, dan disitulah kita harus belajar bersabar. Mencoba mengikhlaskan. Sekuat mungkin bertarung melawan ego yang kita miliki. Seperti yang Allah SWT pernah kumandangkan dalam salah satu ayat Al-Qur'annya:

"Hai orang-orang yang beriman. Bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiaga-siaga (diperbatasan negrimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." Q.S Al-Imran:200

Seperti yang sudah dikatakan disitu, bersabarlah. Sebagai umat yang beriman, kita harus kuat. Walau rasanya sangat sulit, rasanya bagai dirimu tak mampu lagi untuk bernafas, saking banyaknya oksigen yang telah kau keluarkan dari paru-parumu dan saking seringnya kau menahan beban dalam jantungmu.


Ada fase dimana tak semua hal bisa kita miliki. Karena memang sudah mutlaknya seperti itu. Aku pun, terkadang harus dengan tabah menjalani hari, sampai sekarang pun aku masih belajar ikhlas, karena hati ini belum lapang, masih ada butiran kenangan yang menghantui. Siraman ego yang membasuhi kalbuku. Jiwa ini terbakar karena terlalu dipaksakan.

Hidup memang tak selalu untuk bahagia, tapi bukan berarti kita tak boleh tersenyum. Tertawalah selagi kau bisa, walau pada akhirnya akan ada tangis yang menemani. Saat aku sakit hati, kau tau apa yang ku lakukan? Menangis lalu tertawa sendiri. Meratapi nasibnya anak kecil bodoh ini. Buat apa aku menangis? Tentu agar hati ini lapang. Mau bicara dengan seribu orang pun, akan sulit jika kau adalah korban patah hati itu. Mereka bisa berbicara, memberimu nasihat, memelukmu, namun tak akan ada yang bisa mengobati rasa sakit itu. Karena, hanya diri kita sendiri lah yang bisa. Berdiri... Bangun.... Jatuh.... Merangkak....Tergeletak... Dan pada akhirnya kau akan mencoba untuk bangkit lagi. Memang begitulah fase kehidupan.

Aku sendiri, masih belajar sabar. Rasanya lebih sulit dari mengerjakan soal Matematika yang sejatinya perlu kesabaran juga. Semua temanku, memintaku jangan terlalu sering menangis. Tapi, ayolah, selain menangis, apa ada yang bisa aku lakukan? Menangis itu tak lain dan tak bukan hanya salah satu bentuk dari terapi yang sedang aku jalani. Tak setiap hari juga aku menangis, aku juga bingung mengapa hati ini begitu lembut bahkan kapas pun masih perlu tenaga untuk merobeknya, namun hati ini lebih halus lagi. Aku belajar menyibukkan diri, namun seperti yang temanku pernah bilang, tak ada gunanya. Sadarkah? Justru menyibukkan diri sendiri itu malah membuatnya semakin runyam. Mencoba membohongi diri sendiri, pura-pura lupa yang nyatanya tak mungkin untuk aku melupakannya. Tapi aku sadar, aku tak sendirian dan itu membuatku bangkit. Aku punya Allah. Tuhan dan pencipta semesta Alam. Dekatkan diri pada yang Maha Kuasa, dan semoga saja semua usaha akan terbalas.


   Rindu. Rasanya bagaimana ya? Seperti kau ingin berteriak tapi lehermu dicekek oleh dirimu sendiri. Meminta untuk tak mengungkapkan, tapi mata tak bisa bohong saat menatapnya. Telinga tak bisa tuli saat mendengar kabar tentangnya. Namun mulut mendadak bisu, dan lagi-lagi menangislah jadi akhirnya. Itu adalah rindu yang terpendam. Berbeda dengan rindu, disaat orang itu justru ada, peka terhadap perasaanmu yang mendalam, peduli terhadap kau yang tergopoh-gopoh menopang dirimu, menjadi selimutmu dibadanmu yang dingin itu. Menjadi rumah untuk kau yang tersesat dalam memori itu. Bagaimana bila rindu itu tak berujung? Bahkan aku pun tak tahu cara mendeskripsikannya..... Orang itu.... Kenangan itu..... Menusukmu oleh katana yang tanpa sadar dia pegang dan ditusukkannya pada jantungmu, namun dengan segala usaha, kau tetap bernafas, mencari-cari asal katana itu. Aku lelah, sungguh. Aku juga tak tau mengapa aku segitu frustasinya. Padahal hanya masalah rindu. Tapi kau tahu, Rindu itu bisa jadi bumerang saat yang kau rindukan tak pernah mau tau dengan perasaanmu? Hanya duduk diam dengan muka datar menatap wajahmu yang nanar itu.